Kamis, 31 Desember 2015

Artikel Agama

                                                         TAKDIR
  
         Takdir adalah suatu kebenaran, yang tanpa itu, agama,tidak patut dinamakan agama.
Bahkan tujuan agama yang sesungguhnya adalah untuk memperkenalkan manusia dengan taqdir. Bagi orang Islam, taqdir itu merupakan salah satu rukun dari 6 rukun Iman. Bahkan kelima rukun Iman selain Iman kepada taqdir, selebihnya dimaksud untuk memperkuat tuntutan taqdir. Iman yang benar kepada doktrin taqdir, adalah satu-satunya jalan menuju ke sukses.

       Tapi masih ada orang yang salah dalam mengartikan sebuah taqdir .Kalau dia jadi orang jahat, itu adalah taqdir. Dia jadi orang kaya/miskin itu sudah jadi taqdir mereka. Tapi sesungguhnya kerugian, keuntungan, kesusahan, kesenangan, kesengsaraan dan kebahagiaan kita, pendek kata masing-masing dan segala-galanya itu terletak di tangan kita sendiri. Taqdir Tuhan, yang itu hanya nama lain saja bagi undang-undang Allah, itu selalu bekerja. Tak ada sesuatu di dunia yang dapat menyetop undang-undang ini-yaitu undang-undang tentang baik dan buruk—itu bikinan Tuhan. Maka dalam hal ini, Tuhan secara tidak langsung, dapat di anggap sebagai  Pencipta kebaikan dan keburukan. Akan tetapi sebenarnya, pertanggung-jawaban segala sesuatu yang mengenai diri kita, itu semata-mata terletak di atas kita sendiri. Jika kita menggunakan undang-undang menuju kebaikan, maka kita akan memperoleh kebaikan sebagai buah perbuatan kita, dan jika kita menggunakan undang-undang untuk keburukan , maka kita akan memperoleh keburukan sebagai akibat perbuatan kita sendiri. Dengan kata-kata lain berbagai-bagai undang-undang  Illahi itu secara tidak langsung dapat dikata sebagai terjadinya akibat yang berbeda-beda, dan begitu juga Tuhan  sendiri, itu dalam arti terbatas dapat dianggap sebagai sebab terakhir dari akibat-akibat itu. Jadi, dalam hal ini, petunjuk dan sesat itu dapat dikata bikina Tuhan, akan tetapi sebenarnya, kita memperoleh petunjuk atau kesesatan itu melalui perbuatan kita sendiri. Allah berfirman dalam (Surat Al-Baqarah 2:26)  yang artinya:
“Dengan tamsil itu Allah menyesatkan banyak orang, dan dengan tamsil itu Allah menunjukkan banyak orang; dan Allah tidak menyesatkan dengan tamsil itu, melainkan orang-orang kafir (orang-orang yang melanggar undang-undang Illahi)”
Jadi teranglah sudah, bahwa datangnya petunjuk atau kesesatan itu memang  sesuai undang-undang tetap Illahi, akan tetapi juga melalui ketaatan atau pelanggaran kita terhadap Undang-undang itu.

       Hukum-hukum taqdir di terangkan oleh Qur’an Suci untuk memperkuat tenaga-perbuatan kita. Taqdir  mengajarkan kepada kita bahwa untung dan rugi itu bukannya diatur atau dibagi-bagi sebelumnya, sebagaimana dugaan umum. Sebaliknya, untung dan rugi itu ditentukan oleh hukum-hukum yang tak berubah-ubah, yang harus dijalankan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang mencarinya, sampai tujuan yang sudah pasti yaitu baik/buruk. Semua terserah pada kita sendiri, jalan mana yang kita ambil, baik/salah. Kita sama-sama diberi alat yang diperlukan, baik yang berupa daya-kemampuan maupun berupa petunjuk untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Tidak mengunakan atau salah-menggunakan daya-kemampuan itulah yang menyebabkan kehancuran kita.

Apa itu kreativitas?

 kreativitas adalah kemampuan seseorang menghasil ide baru. Yang dimaksud ide baru bukan berarti benar-benar baru, dari tidak ada menjadi ada, tetapi maksudnya baru di sini ialah bisa berupa bentuk baru atau berbeda dari yang ada sebelumnya.


Lalu apa itu inovasi? Yah, sering kali kita bingung membedakan antara inovasi dan kreativitas.Definisi inovasi ialah hasil dari kreativitas yang sudah diterima oleh masyarakat atau bernilai secara ekonomis. Sekarang sudah jelas, apa itu inovasi dan apa itu kreativitas. Semoga tidak bingun lagi.