TAKDIR
Takdir
adalah suatu kebenaran, yang tanpa itu, agama,tidak patut dinamakan agama.
Bahkan
tujuan agama yang sesungguhnya adalah untuk memperkenalkan manusia dengan taqdir.
Bagi orang Islam, taqdir itu merupakan salah satu rukun dari 6 rukun
Iman. Bahkan kelima rukun Iman selain Iman kepada taqdir, selebihnya
dimaksud untuk memperkuat tuntutan taqdir. Iman yang benar kepada doktrin
taqdir, adalah satu-satunya jalan menuju ke sukses.
Tapi masih ada
orang yang salah dalam mengartikan sebuah taqdir .Kalau dia jadi orang
jahat, itu adalah taqdir. Dia jadi orang kaya/miskin itu sudah jadi
taqdir mereka. Tapi sesungguhnya kerugian, keuntungan, kesusahan, kesenangan,
kesengsaraan dan kebahagiaan kita, pendek kata masing-masing dan segala-galanya
itu terletak di tangan kita sendiri. Taqdir Tuhan, yang itu hanya nama
lain saja bagi undang-undang Allah, itu selalu bekerja. Tak ada sesuatu di
dunia yang dapat menyetop undang-undang ini-yaitu undang-undang tentang baik
dan buruk—itu bikinan Tuhan. Maka dalam hal ini, Tuhan secara tidak langsung,
dapat di anggap sebagai Pencipta
kebaikan dan keburukan. Akan tetapi sebenarnya, pertanggung-jawaban segala sesuatu
yang mengenai diri kita, itu semata-mata terletak di atas kita sendiri. Jika
kita menggunakan undang-undang menuju kebaikan, maka kita akan memperoleh
kebaikan sebagai buah perbuatan kita, dan jika kita menggunakan undang-undang
untuk keburukan , maka kita akan memperoleh keburukan sebagai akibat perbuatan
kita sendiri. Dengan kata-kata lain berbagai-bagai undang-undang Illahi itu secara tidak langsung dapat dikata
sebagai terjadinya akibat yang berbeda-beda, dan begitu juga Tuhan sendiri, itu dalam arti terbatas dapat
dianggap sebagai sebab terakhir dari akibat-akibat itu. Jadi, dalam hal ini,
petunjuk dan sesat itu dapat dikata bikina Tuhan, akan tetapi sebenarnya, kita
memperoleh petunjuk atau kesesatan itu melalui perbuatan kita sendiri. Allah
berfirman dalam (Surat Al-Baqarah 2:26)
yang artinya:
“Dengan
tamsil itu Allah menyesatkan banyak orang, dan dengan tamsil itu Allah
menunjukkan banyak orang; dan Allah tidak menyesatkan dengan tamsil itu,
melainkan orang-orang kafir (orang-orang yang melanggar undang-undang Illahi)”
Jadi teranglah sudah, bahwa datangnya petunjuk atau kesesatan itu
memang sesuai undang-undang tetap
Illahi, akan tetapi juga melalui ketaatan atau pelanggaran kita terhadap
Undang-undang itu.
Hukum-hukum taqdir
di terangkan oleh Qur’an Suci untuk memperkuat tenaga-perbuatan kita. Taqdir mengajarkan kepada kita bahwa untung dan
rugi itu bukannya diatur atau dibagi-bagi sebelumnya, sebagaimana dugaan umum.
Sebaliknya, untung dan rugi itu ditentukan oleh hukum-hukum yang tak
berubah-ubah, yang harus dijalankan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang
mencarinya, sampai tujuan yang sudah pasti yaitu baik/buruk. Semua terserah
pada kita sendiri, jalan mana yang kita ambil, baik/salah. Kita sama-sama
diberi alat yang diperlukan, baik yang berupa daya-kemampuan maupun berupa
petunjuk untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Tidak mengunakan
atau salah-menggunakan daya-kemampuan itulah yang menyebabkan kehancuran kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar